F2N2014 Survey #1: Kiluan

Pada tanggal 1-3 Maret lalu, tim #F2N2014 yang terdiri dari Ricky Adrian, Hendrick ‘Mamay’ Kaikatuy, Jakobus Mulia, dan Hotma ‘Meng’ Roni Simamora melakukan survey lokasi ke Teluk Kiluan yang berada di Kabupaten Tanggamus, Lampung. Berikut ini adalah catatan singkatnya:

 

Jakarta – Banda Lampung (Senin, 31 Maret)

Sekitar pukul 10 malam kami berangkat dengan mobil pribadi Jakob dari rumahnya di daerah Pademangan, Jakarta Utara menuju pelabuhan penyeberangan Merak. Lalu lintas malam itu lancar dan tidak ada antrean kendaraan saat kami masuk ke ferry di dermaga 1. Sekitar pukul 00.30 kami sudah berada di bagian belakang kapal (buritan). Jumlah penumpang kapal cukup banyak. Kami pindah ke bagian depan kapal (dek) yang lebih sepi dan menghabiskan waktu menikmati malam di sana.

Ferry merapat ke pelabuhan Bakauheni Lampung setelah menyeberangi Selat Sunda selama sekitar 2 jam. Cuaca cerah selama perjalanan itu. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal keluarga Ricky di daerah Gedong Air di Bandar Lampung dan tiba di sana sekitar pukul 5 pagi.

 

Banda Lampung – Teluk Kiluan (Selasa, 1 April)

Setelah beristirahat selama beberapa jam, sekitar pukul 12 siang kami melanjutkan perjalanan ke Teluk Kiluan dengan kendaraan sewaan yang sudah termasuk dalam paket wisata di sana. Setelah berjalan selama 1 jam, kami mulai memasuki rute jalan dengan pemandangan khas daerah pantai di sisi kiri kami.

Setengah jam kemudian kami mulai menemukan ruas-ruas jalan rusak yang selama ini menjadi salah satu faktor yang menghalangi minat sebagian orang untuk datang ke Kiluan. Menurut pengamatan kami, kondisi ruas-ruas jalan itu tidak seburuk anggapan banyak orang. Masih tampak mobil-mobil sedan yang melintasi daerah itu.

Setelah beberapa kali berhenti untuk memotret dan jajan, tak terasa perjalanan telah berlangsung selama hampir 3 jam saat kami melihat papan penunjuk arah ‘Kiluan ± 20 Km’.

Kami masih menemukan beberapa ruas jalan rusak yang masih dapat dilalui kendaraan tanpa usaha ekstra yang cukup berarti. Sekitar satu jam kemudian, kami tiba di gerbang ‘Selamat Datang di Teluk Kiluan’. Dari sana tampak pemandangan Teluk Kiluan dengan Pulau Kelapa di kejauhan. Dan, lagi-lagi, kami berhenti untuk memotret.

Di titik inilah pertama kalinya kami menemukan ruas jalan menurun setelah selama 4 jam berkendaraan di sepanjang jalan dengan kontur yang relatif landai. 15 menit dari sana kami melewati beberapa rumah khas Bali yang kabarnya dihuni sekelompok transmigran asal Bali. Sekitar pukul 16.30 kami turun dari mobil dan melanjutkan perjalanan dengan jukung (kapal nelayan). Landscape Teluk Kiluan yang indah dan gelombang yang tenang membuat perjalanan selama 15 menit terasa singkat.

Jukung kami menepi sekitar pukul 5 sore di pantai dekat pondok Kiluan Dolphin tempat kami menginap. Sisi pantai ini menghadap ke barat, arah matahari tenggelam.

Setelah sekitar setengah jam beristirahat, jukung itu kembali mengantar kami, kali ini menuju Pulau Kelapa yang terletak beberapa ratus meter tepat di seberang sisi pantai pondok kami. Langit cerah di sore itu. Kami berempat sibuk mengabadikan langit sunset hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 18.21. Lokasi ini sangat ideal untuk floatspot nanti.

 

Laguna, Teluk Kiluan (Rabu, 2 April)

Setelah sarapan, sekitar pukul 9 pagi kami menuju sebuah laguna yang berada di balik bukit di belakang pantai kami yang menghadap ke timur. Perjalanan itu membawa kami ke jalan setapak dengan tanjakan yang cukup menantang. Meski jalan yang kami lalui dipayungi pohon-pohon besar, cuaca khas daerah pantai pada saat itu membuat kami berhenti beberapa kali untuk beristirahat sebentar. Diperlukan air minum dengan jumlah yang cukup banyak untuk perjalanan ini.

Setelah sekitar 30 menit tanjakan itu berakhir. Dari titik di mana jalan mulai menurun, kami dapat melihat sisi lain Teluk Kiluan dengan pemandangan yang sangat berbeda dengan pantai tempat kami menginap yang lebih tenang. Di sisi ini pantainya berkarang dengan gulungan-gulungan ombak besar.

Kami melanjutkan perjalanan ke arah laguna melewati batu-batu karang di tepi pantai. Disarankan menggunakan sepatu atau alas kaki yang kuat untuk berjalan di sini. Setelah berjalan sekitar 45 menit dari titik awal kami tiba di suatu titik di mana kami dapat melihat jelas laguna yang kami tuju. Sayangnya, saat itu kondisi air laut sedang pasang, sehingga saat ombak datang batu-batu karang yang memisahkan laut dan laguna itu terendam air. Arus balik akibat hempasan ombak bisa saja menyeret kami ke tengah. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan menikmati pemandangan di situ. Seandainya kami berangkat lebih siang, mungkin ketinggian air laut di laguna lebih surut.

Setelah selama kurang-lebih satu jam di sana, kami kembali ke pondok untuk mengecek lahan untuk mendirikan tenda-tenda tempat menginap para peserta nanti. Meski di tengah hari suhu udara cukup panas (seperti halnya suhu udara di daerah pantai di Indonesia), banyaknya pohon di lokasi tenda-tenda nanti cukup membuat nyaman. Jumlah kamar mandi dan toilet cukup banyak dengan kondisi yang cukup baik. Karena kondisi lebar pantai yang terbatas, besar kemungkinan tenda-tenda yang akan menampung jumlah orang yang kami batasi nanti akan tersebar di beberapa lokasi.

Sore harinya setelah menyantap makan siang dan beristirahat, sekitar pukul 4 sore kami kembali menyeberang ke Pulau Kelapa. Pada jam-jam ini sisi timur pulau ini sangat ideal untuk berenang atau bersantai. Kontur pantai berpasir putih yang cukup landai dan lebar dapat menampung banyak orang. Setelah satu jam, kami kembali ke lokasi floatspot tempat kami menikmati sunset di hari sebelumnya.

 

Laut lepas, Teluk Kiluan (Kamis, 3 April)

Setelah sarapan pagi, sekitar pukul 06.30 pagi kami bersiap-siap menuju laut lepas untuk melihat lumba-lumba, icon utama Teluk Kiluan. Saat itu kondisi laut cukup teduh. Setelah mencari selama sekitar 1,5 jam dan setengah-setengah mengantuk, akhirnya kami dapat melihat sekelompok lumba-lumba di kejauhan. Tidak lama kemudian, entah dari mana, tiba-tiba sekelompok lain menampakkan diri, terlihat jelas di bawah permukaan air laut yang jernih, berenang di bagian depan jukung yang membawa kami. Kemudian menyusul beberapa kelompok lumba-lumba lain bermunculan di sekitar kami. Pemandangan yang sangat luar biasa di pagi itu.

Sekitar pukul 9.30 pagi, kami sampai lagi di pondok. Setelah beristirahat dan makan siang, sekitar pukul 1 siang kami kembali menuju Bandar Lampung.

Tags: ,

No comments yet.

Leave a Reply