#mestikesini

17 Juni 2013. Rapat terakhir di Aidea Creative House, Jakarta.

Terus terang, lega sekali rasanya saat kami semua yang tergabung dalam tim kecil #F2N2013 ini sepakat mengadakan acara ini kembali di Telaga Cebong, Desa Sembungan, Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Saya yakin betul bahwa keputusan ini tidaklah mudah bagi kami semua.

Tim #F2N2013 ini tidak terbentuk dari proses rekrutmen resmi. Tidak ada hal lain yang menyatukan kami semua selain hasrat untuk meneruskan acara Float2Nature untuk tahun ini. Saya masih ingat jelas saat pertama kali diundang Hamam Firdaus untuk bergabung dalam grup WhatsApp “Float2Nature Berikutnya”, beberapa hari setelah kami pulang dari #F2N2012 lalu. Selain Hamam, di dalamnya ada Jakobus Mulia, Yudha Hari Radithe, Nike Prima, dan Wisnu Ario Wibisono, teman-teman yang ikut bergabung sebagai pendukung Float2Nature perdana lalu. Sejak itulah konsep acara ini berkembang hingga akhirnya juga menarik Lucia Nancy, Linda Brotodjojo dan Agung Rahmadsyah.

Di sela-sela kesibukan dalam kegiatan sehari-hari, melalui proses yang cukup panjang, kami membuat rancangan-rancangan untuk acara tahun ini. Tentunya, rancangan-rancangan itu dibuat berdasarkan konsep dasar yang baru dan hasil evaluasi acara tahun lalu. Penentuan lokasi adalah isu utama yang paling sulit kami hadapi. Sejak survey pertama pada pertengahan Oktober 2012 hingga survey ketiga pada pertengahan Mei 2013, kami tidak berhasil menemukan lokasi yang cukup ideal untuk konsep dasar acara ini.

DIY. 18 Oktober 2012. #F2N2013survey pertama.

Tawangmangu, Jawa Tengah. 12 Maret 2013. #F2N2013survey kedua.

Maleber, Jawa Barat. 15 Mei 2013. #F2N2013survey ketiga.

Seperti yang telah disebutkan di atas, akhirnya kami memutuskan kembali ke Desa Sembungan, Dieng Wonosobo, Jawa Tengah. Minggu subuh 23 Juni lalu saya, Jakob, Yudha, dan Tommy J Budi Utomo berangkat untuk survey yang keempat. Di sepanjang perjalanan itu kami berhasil mengabadikan berbagai momen dalam wujud bunyi dan gambar.

Sepanjang perjalanan Bintara – Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta. 23 Juni 2013. Pukul 01.49.

Sekitar pukul 11 pagi kami tiba di Purwokerto untuk melihat kondisi stasiun kereta api. Sesuai keputusan rapat terakhir, kami berencana memberikan 2 pilihan lokasi “check in+out” bagi para peserta. Para peserta yang memilih lokasi “check in+out” di Jakarta akan berangkat bersama sebagian besar panitia naik kereta api ke Purwokerto. Dari sana mereka akan melanjutkan perjalanan ke Dieng dengan bis pariwisata berukuran besar dengan kapasitas sekitar 40 orang. Sedangkan mereka yang memilih lokasi “check in+out” di Dieng akan menanggung sendiri sarana transportasinya masing-masing.

Stasiun Purwokerto, Jawa Tengah. 23 Juni 2013. Pukul 11.31.

Berdasarkan informasi resmi yang kami peroleh, kereta api pagi dari Jakarta akan tiba di Purwokerto sekitar waktu makan siang. Untuk itu, kami melanjutkan survey, mencari tempat yang kita perlukan di hari-h. Hingga saat survey kemarin, kami baru menemukan satu tempat yang mampu menampung rombongan dari Jakarta nanti.

Rumah makan Pringgading, Purwokerto, Jawa Tengah. 23 Juni 2013. Pukul 13.40.

Setelah berkendara selama kurang lebih 3 jam, akhirnya kami tiba di Rumah Makan Bu Djono, tempat yang rencananya akan kami gunakan sebagai lokasi “check in+out” di Dieng. Di sana kami sempat bertemu dengan Dwi, salah satu warga Dieng yang ikut berpartisipasi dalam kepanitiaan tahun lalu.

Jl. Raya Dieng KM 27, Kejajar Wonosobo, Jawa Tengah. 23 Juni 2013. Pukul 17.24.

Setelah melepas rindu pada mie bakso karangan ibu di warung seberang Bu Djono, kami check-in di homestay Dahlia yang terletak tidak jauh dari sana. Sekitar pukul 7 malam Yuna, teman kami di Desa Sembungan, datang menjemput kami untuk survey ke Telaga Cebong. Malam itu suhu udara di sana sangat dingin. Pakaian yang menempel di tubuh kami tidak cukup tebal untuk menahannya agar tidak sedikitpun menggigil. Namun, keindahan Telaga Cebong di bawah guyuran sinar bulan purnama malam itu membuat kami betah berlama-lama di sana.

Telaga Cebong, Desa Sembungan, Dataran Tingga Dieng, Jawa Tengah. 23 Juni 2013. Pukul 19.58.

Rumah keluarga Yuna, Desa Sembungan, Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. 23 Juni 2013. Pukul 20.54.

Kami kembali ke penginapan sekitar pukul 11 malam setelah sempat jajan cemilan di Indomaret. Sesuai rencana, keesokan paginya sekitar pukul 9 kami kembali ke Sembungan untuk menemui kepala desa. Keindahan paginya Dieng seolah menghasut kami berempat untuk berkali-kali berhenti di sepanjang perjalanan itu, untuk memotret pemandangan yang berhamburan di segala penjuru. Kemewahan yang tidak mampu kami cicipi tahun lalu.

Desa Sembungan, Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. 24 Juni 2013. Pukul 09.37.

Gerbang masuk Desa Sembungan. Pukul 09.49.

Abdul Wahid

Setelah sekitar 20 menit, meski belum puas menikmati pemandangan di sekitar gerbang masuk desa, kami melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi, kami berhenti. Kali ini di pinggir tangga naik menuju sebuah sekolah. Sudah lewat dari jam 10. Kami sudah telat. We’re loosing our sense of time.

Taman bermain tertinggi di Jawa. Pukul 10.05.

Suasana Senin pagi musim liburan sekolah. Pukul 10.12.

Gerbang sekolah. Pukul 10.17.

Setelah sadar bahwa kami sudah sangat terlambat, dengan berat hati kami bergegas melanjutkan perjalanan. Setibanya di desa ternyata Pak Kepala Desa sedang tidak ada di tempat. Yuna meminta kami menunggu di pinggir jalan sementara ia pergi mencari informasi tentang keberadaan beliau. Kami pun tidak keberatan karena artinya kami masih punya waktu untuk memotret suasana sekitar.

Pukul 10.22

Pukul 10.23

Pukul 10.24

Pukul 10.27

Setelah beberapa saat, Yuna kembali membawa kabar bahwa kepala desa sedang mengikuti acara penting di luar desa. Sambil menunggu, Yuna menawarkan tur pendek mengitari Telaga Cebong lewat jalan di depan rumahnya, menyisiri sisi Telaga Cebong yang belum pernah kami telusuri. Kami berjalan kaki memasuki jalan-jalan kecil dan persimpangan-persimpangan, sambil menyaksikan suasana kegiatan di desa pagi itu. Lagi-lagi, berkali-kali kami berhenti untuk memotret. Perjalanan menuju rumah Yuna saja sudah terasa seperti tur.

Pukul 10.43

Pukul 10.44

Pukul 10.46

Pukul 10.47

Setelah melalui perjalanan singkat itu, kami tiba di jalan setapak tepat di depan rumah Yuna. Dari sana kami dapat melihat dari dekat, sisi lain Telaga Cebong.

Pukul 10.48

Pukul 10.49

Pukul 11.01

Pukul 11.08

Pukul 11.13

Lagi-lagi, kami berhenti berkali-kali untuk memotret. Yuna terlihat seolah puas melihat kami semua terperangah. Norak, tipikal orang kota, mungkin itu yang ada di benaknya. Saya sempat menanyakan berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk memamerkan tempat-tempat spektakuler di wilayah ini.

“Dua hari.”, jawabnya ringan.

Pukul 11.16

Pukul 11.28

Tidak lama kemudian, kami tiba di sisi Telaga Cebong yang tidak asing lagi. Tidak jauh dari posisi kami berdiri, kami dapat melihat sepasang perahu biru di pinggir telaga. Obyek yang sangat familiar.

Pukul 11.34

Lokasi perkemahan dan floatspot #F2N2013. Telaga Cebong. Pukul 11.37.

Pukul 11.40

Tim #F2N2013survey keempat. Pukul 11.53.

Pukul 12.02

Dari Cebong kami kembali ke rumah Yuna. Setelah menyantap makan siang di sana, Yuna mengantar kami untuk menemui Ketua Kelompok Sadar Wisata Sembungan. Ternyata beliau pun sedang keluar. Kami sempat khawatir misi dalam survey ini tidak tercapai. Namun, kekhawatiran itu tidak berlangsung lama. Kami mendapat kabar bahwa ada seseorang yang secara resmi dapat mewakili pemerintah desa Sembungan yang dapat kami temui. Seperti berjodoh, kami sangat beruntung beliau tidak ikut pergi bersama rombongan kepala desa. Pak Sarifudin namanya, Kepala Urusan Umum Pemerintah Desa Sembungan.

Rumah kediaman Pak Sarifudin. 24 Juni 2013. Pukul 13.12.

Pak Sarifudin

Lega sekali rasanya setelah menemui Pak Sarifudin. Tidak hanya mendapatkan ijin untuk mengadakan acara, beliau juga tampak sangat antusias saat mendengarkan penjelasan kami tentang konsep dan rencana kegiatan di #F2N2013 nanti.

Banyak ide baru yang lahir selama survey ini. Ide-ide yang berhubungan dengan hal-hal teknis dan rangkaian kegiatan di bulan November nanti. Salah satunya adalah tur Desa Sembungan dengan warga desa sebagai tuan rumahnya.

Besar harapan kami agar semua orang yang akan ikut serta dalam acara ini dapat menikmati segala sensasi yang kami dapatkan selama survey ini. Segala sensasi yang menghampiri setiap indera kami. Yang membuat kami akan selalu mengenang momen-momen ini. Kita semua #mestikesini.

Yunaedi

Iis, istrinya Yuna, menyiapkan siomay dagangannya untuk makan siang kami.

Tur terakhir sebelum pulang, berbelanja oleh-oleh ditemani Dwi “Bu Djono”.

Tags:

No comments yet.

Leave a Reply